PojokTV
BREAKING NEWS
Memuat berita terbaru...
Pemkab Sidoarjo
Pendidikan/Detail Berita

EDUKASI CAGAR BUDAYA, DISDIKBUD KOTA MALANG BOYONG ARCA GANESHA DAN DURGA KE SEKOLAH

Foto Utama Berita

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

Oleh: Iwan SaidJumat, 28 Agustus 2026 | 03:27 WIB116 kali dibaca

MALANG (pojoktv.com) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang melakukan gebrakan dengan program Museum Keliling. Kali ini, SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang di Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Makam No. 30, Pandanwangi, Blimbing, menjadi sasaran aksi "jemput bola" tersebut pada Kamis (27/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan benda-benda bersejarah langsung ke hadapan para pelajar.

​Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengungkapkan bahwa program ini dirancang khusus untuk menjangkau satuan pendidikan SD dan SMP yang memiliki keterbatasan akses transportasi menuju museum.

​"Memang target kita itu di sekolah-sekolah SD, SMP. Kita bidiknya terutama sekolah-sekolah yang di pedalaman, yang sekiranya dari segi transportasi tidak bisa menjangkau untuk berkunjung ke museum. Jadi kita seperti jemput bola," ungkap Juli.

​Langkah strategis ini dinilai krusial untuk membentengi generasi muda dari lunturnya pemahaman budaya di tengah gempuran teknologi dan maraknya penggunaan gawai.

​Dalam kesempatan yang sama, Penanggung Jawab Program Museum Keliling, Rakai Hino Galeswangi atau Sam Raka, menegaskan bahwa edukasi sejarah tidak boleh berhenti di lembaran buku teks. Siswa diajak berinteraksi langsung dengan artefak fisik, termasuk Arca Ganesha Musika, Arca Durga, hingga arca tokoh dewa.

​"Program ini kami rancang agar siswa tidak hanya belajar sejarah dari buku, tetapi bisa menyentuh dan menyaksikan langsung artefak-artefak budaya," jelas Sam Raka.

​Melalui artefak tersebut, para pelajar diajak mendalami simbol, nilai seni, hingga filosofi kehidupan masyarakat masa lalu sebagai fondasi memahami konsep cagar budaya.

​Tak sekadar mengenalkan sejarah, Museum Keliling ini turut menyisipkan misi penting: menanamkan nilai toleransi beragama sejak usia sekolah. Sam Raka mengingatkan agar peninggalan masa klasik dipahami dalam konteks perkembangan peradaban, bukan dinilai dari sudut pandang keyakinan modern secara sempit.

​"Kita tanamkan secara eksplisit terkait toleransi beragama. Ketika kita melihat peninggalan atau bukti peninggalan dari sebuah peradaban, jangan tiba-tiba dianggap tidak sesuai dengan keyakinan atau kekinian. Yang kita lihat adalah bukti peradaban nenek moyang kita di masa lampau pernah maju," tegasnya.

​Ia pun berharap rekam jejak kejayaan Nusantara pada abad ke-13 dan ke-14 dapat memicu daya saing generasi muda untuk membawa Indonesia kembali unggul di kancah global. Melalui Museum Keliling, Disdikbud Kota Malang sukses mengubah museum dari sekadar tempat penyimpanan artefak menjadi ruang belajar publik yang hidup, edukatif, dan penuh inspirasi.