TERHIMPIT EKONOMI KELUARGA, KAKAK BERADIK DI SIDOARJO PUTUS SEKOLAH

Foto: Tarkit Erdianto(Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo)
PojokTV.Com - Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo kecolongan. Ada kakak beradik asal Dusun Pager,Desa Sawotratap Kecamatan Gedangan Sidoarjo harus putus Sekolah, karena ekonomi keluarganya yang memaksa untuk berhenti sekolah.
Alhilmi Ilman (12) tahun batal masuk SMP dan kakaknya, Maulana Yusuf Alamsyah (15) tahun, gagal melanjutkan ke SMA. Mendengar ada kakak beradik yang putus sekolah karena terhimpit ekonomi keluarga, Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo,Rabu 22/07/2026 mendatangi tempat tinggal keduanya di sebuah kamar kos berukuran sekitar 3x3 meter di Jalan Raden Wijaya, Gang Masjid, Dusun Pager, bersama ayahnya dan sedangkan ibunya sudah meninggal dunia.
Tarkit Erdianto, Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo mengatakan, "Terkait anak yang putus sekolah ini, perlu perhatian khusus. Kami juga melibatkan teman-teman dari Dinas Sosial. Di samping pendidikan, di situ perlu ada tindakan sosial yang harus dilakukan oleh dinas," ujar Tarkit.
Menurut Tarkit, kendala utama yang dihadapi adalah administrasi kependudukan karena keluarga tersebut masih ber-KTP Kabupaten Gresik. Meski demikian, ia memastikan hal itu tidak akan menghentikan upaya penyelamatan pendidikan kedua anak tersebut.
"Nanti teman-teman Dinsos akan berkoordinasi dengan Dinsos Kabupaten Gresik. Begitu juga Dikbud Sidoarjo akan berkoordinasi dengan Dikbud Kabupaten Gresik. Langkah apa yang harus dilakukan, kewenangan dan kewajibannya akan dibahas bersama," katanya.
Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, Komisi D tidak ingin ada anak di Sidoarjo kehilangan hak memperoleh pendidikan. "Jangan sampai ada anak putus sekolah. Itu bagian dari tanggungjawab kita bersama. Anak-anak kita harus sekolah sesuai amanat konstitusi," tegasnya. Tarkit juga optimistis kedua anak tersebut masih memiliki peluang untuk kembali mengenyam pendidikan, termasuk melalui sekolah swasta apabila memungkinkan.
"Insya Allah bisa, kita harus bisa. Masa harus menunggu satu tahun? Dikbud harus mengambil langkah, harus action. Saya yakin ini bisa diselesaikan," tuturnya. Ia mengaku tersentuh melihat semangat kedua anak tersebut yang masih ingin melanjutkan sekolah. "Kalau kita lihat bersama tadi, anak-anak ini sangat antusias untuk sekolah lagi. Dengan semangat seperti itu, kalau kita diam saja, rasanya berdosa," ungkapnya.
Kondisi keluarga tersebut juga dibenarkan tokoh masyarakat setempat, Martono. Ia mengatakan keluarga itu telah lama tinggal di lingkungan tersebut dan hidup dalam keterbatasan sejak sang ibu meninggal dunia. "Sudah lama sekali tinggal di sini. Sejak kecil memang di sini. Tapi kondisinya ekonominya sangat minim. Bapaknya kerjanya seadanya," ujarnya. Martono menjelaskan, ayah kedua anak itu bekerja serabutan, bahkan sesekali menjadi sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) di sekitar Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru. "Kalau ada pekerjaan ya ikut. Kalau tidak ada, kadang jadi nyemprit atau polisi cepek. Itu pun kadang berebut tempat dengan yang lain," tuturnya.
Ia berharap perhatian dari DPRD dan pemerintah dapat menjadi jalan keluar bagi masa depan kedua anak tersebut. "Saya sangat prihatin. Alhamdulillah ada Pak Tarkit dan tim datang melihat langsung. Mudah-mudahan ini benar-benar membantu mereka, karena pendidikan adalah hak setiap anak," katanya.
Dari sisi sosial, Pendamping Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Kementerian Sosial, Edrian AP, menilai keluarga tersebut sebenarnya memenuhi syarat untuk memperoleh bantuan sosial. "Menurut kami kondisinya sangat memprihatinkan. Yang bersangkutan sebenarnya layak mendapat bantuan sosial, baik kebutuhan dasar maupun nutrisi," ujarnya.
Namun, ia mengakui penanganan masih terkendala status administrasi kependudukan yang berada di luar Kabupaten Sidoarjo. "Kami akan berkoordinasi lebih lanjut. Hasil survei lapangan akan kami sampaikan kepada pimpinan, kemudian dikoordinasikan dengan pemerintah desa dan pihak terkait," jelasnya.
Edrian mengatakan bantuan yang paling mendesak adalah pemenuhan kebutuhan dasar keluarga tersebut. "Kemungkinan bantuan awal berupa sembako dan kebutuhan makan sehari-hari. Dari informasi warga, orang tuanya sampai memancing untuk mencari makan anak-anaknya," ungkapnya.
Sementara itu, Guru SDN Sawotratap 2, Eloek Yuniar Sandi, mengungkapkan bahwa pihak sekolah semula mengira Alhilmi sudah didaftarkan ke SMP swasta oleh ayahnya. "Informasi dari ayahnya sudah didaftarkan di SMP swasta yang dekat rumah. Ternyata, dia belum didaftarkan karena tidak ada biaya," ujarnya.
Di sisi lain, Maulana Yusuf Alamsyah mengaku sangat ingin kembali melanjutkan sekolah, namun kondisi ekonomi keluarga membuat keinginannya harus tertunda. "Seharusnya tahun ini saya sudah kelas 1 SMA, tapi tidak melanjutkan sekolah," ucapnya. Maulana mengatakan ayahnya bekerja serabutan dan tidak selalu berada di rumah karena harus mencari nafkah.
"Ayah kerja serabutan, bantu-bantu orang. Kadang pulang, kadang sebulan sekali baru pulang. Ibu meninggal tahun 2022, waktu saya lulus SD, pas masa COVID-19" tuturnya.

