Rapor Merah Dinas Pendidikan Malang: Biarkan SDN 1 Randu Agung Berjuang Sendiri di Tengah Deretan Prestasi Nasional

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV
MALANG( PojokTv.com )- Di saat dunia pendidikan Indonesia menggembor-gemborkan era digitalisasi dan pemerataan mutu sekolah, sebuah paradoks besar terjadi di kaki Gunung Arjuno. SD Negeri 1 Randu Agung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, berdiri sebagai bukti bahwa prestasi gemilang tidak selalu lahir dari fasilitas mewah. Namun di balik deretan trofi nasional yang mengharumkan nama Jawa Timur, tersimpan ironi pahit: sekolah tertua di desa tersebut seolah luput dari radar perhatian pemerintah.
Berdiri sejak 1918, sekolah dasar ini telah melewati lebih dari satu abad pengabdian. Alih-alih mendapatkan perhatian khusus sebagai lembaga pendidikan bersejarah yang produktif melahirkan bibit-bibit unggul, SDN 1 Randu Agung justru dibiarkan berjalan tertatih-tatih secara mandiri.
Ketika Prestasi Siswa Mengalahkan Sunyi Birokrasi
Alih-alih meratapi minimnya fasilitas, denyut nadi pembelajaran di sekolah ini justru dihidupkan oleh ketulusan para pendidik dan ledakan prestasi luar biasa dari para siswanya. Dalam catatan prestasi dua tahun terakhir, sekolah berstatus "sederhana" ini sukses menjelma menjadi pabrik juara di berbagai level kompetisi.
Nama-nama seperti Fedo Dwi Ardiansyah dan Dinar Mikayla Azzahra menjelma menjadi momok menakutkan bagi kontingen daerah lain di berbagai ajang karate bergengsi tingkat nasional sepanjang 2026—mulai dari Piala Panglima TNI, Piala Kemenpora RI, hingga Kejurnas INAFF. Tidak hanya di olahraga, Dinar dan rekannya, Muhammad Rayhan Izza Mawlana, juga membabat habis kejuaraan seni seperti Pantomim FLS3N tingkat kecamatan. Di ranah akademik, Bintang Laila Faiha turut menyumbang gelar juara di Olimpiade Sains OBOR.
Deretan prestasi membanggakan ini membuktikan satu hal mutlak: potensi anak-anak Randu Agung tidak kalah dengan sekolah-sekolah elite di perkotaan.
Menghidupkan Sekolah dengan Swadaya, Negara ke Mana?
Namun, di sinilah letak persoalan utamanya. Prestasi level nasional berbanding terbalik dengan kondisi fisik dan penunjang sekolah. Kepala SDN 1 Randu Agung, Siti Zuhrotul Qibtiyah, S.Pd., M.Pd., dengan jujur mengakui bahwa sarana, prasarana, hingga digitalisasi di sekolahnya masih berada di bawah standar minimum.
Yang paling mencengangkan, di tengah keterbatasan anggaran dan fasilitas digital yang minim tersebut, pihak sekolah mengungkapkan fakta mengejutkan: hingga saat ini, belum ada kucuran bantuan atau program revitalisasi berarti dari pemerintah daerah maupun pusat yang mendarat di sekolah ini.
Sekolah tidak tumbang berkat negara, melainkan berkat ketangguhan "orang-orang pinggiran". Siti Zuhrotul memberikan apresiasi tinggi kepada Komite Sekolah yang selama ini menjadi tulang punggung utama. Lewat swadaya dan kepedulian luar biasa para orang tua murid, fasilitas minimalis demi keberlangsungan KBM dipaksakan ada.
Alarm Keras untuk Dinas Terkait
Kondisi SDN 1 Randu Agung seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan di sektor pendidikan Kabupaten Malang maupun tingkat yang lebih tinggi. Sangat ironis melihat lembaga pendidikan yang membawa harum nama daerah di kancah nasional harus memohon-mohon bantuan revitalisasi bangunan dan perangkat digital agar siswanya tidak tertinggal zaman.
Pendidikan berkualitas memang bermula dari hati guru dan ketekunan siswa, sebagaimana jargon mereka: "Sedari Ratu: Belajar dengan Hati, Bertumbuh dengan Prestasi." Namun, membiarkan sebuah sekolah berprestasi berjuang sendirian di tengah keterbatasan infrastruktur adalah bentuk pengabaian sistemik.
Negara tidak boleh hanya hadir saat ada siswa yang membawa pulang piala untuk diajak berfoto bersama. Sudah saatnya Dinas Pendidikan turun tangan nyata, menyalurkan program revitalisasi bangunan, dan mendistribusikan perangkat digitalisasi. Sebab jika sekolah dengan potensi sebesar ini terus dibiarkan hidup dalam keterbatasan struktural, bukan tidak mungkin prestasi hebat esok hari akan padam terkikis zaman.

