Evaluasi Lintas Sektor Bantur, Stunting dan TBC Jadi Target Utama

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

PUSKESMAS BANTUR BONGKAR KENDALA STUNTING DAN TBC, SERUKAN KOLABORASI TOTAL LINTAS SEKTOR
MALANG,( PojokTv.com ) – Penanganan stunting dan tuberkulosis (TBC) di wilayah kerja Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang, dipastikan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan tenaga medis. Evaluasi mendalam terhadap dua ancaman kesehatan utama ini dibongkar terbuka dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor Tahun 2026 yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026).
Langkah agresif ini diambil untuk mendobrak ego sektoral dan menggenjot keterlibatan aktif pemerintah kecamatan, koramil, kepolisian, hingga jajaran pemerintah desa se-Kecamatan Bantur.
Kepala UPT Puskesmas Bantur, Soebagijono, S.Kep.Ns., M.M.Kes., menegaskan bahwa evaluasi rutin empat bulanan ini bukan sekadar formalitas, melainkan wadah krusial untuk memetakan capaian sekaligus membongkar kendala riil di lapangan.
"Persoalan kesehatan masyarakat tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Keterlibatan penuh Forkopimcam, perangkat desa, TNI-Polri, hingga partisipasi akar rumput mutlak diperlukan agar penanganan stunting dan TBC benar-benar tepat sasaran," tegas Soebagijono.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Camat Bantur Bayu Jatmiko, S.STP., Kapolsek Bantur AKP Ahmad Taufik Syafiudin, S.H., M.H., Bati Tuud Koramil 0818/12 Bantur Peltu Tomy Umbarsono, serta seluruh kepala desa dan tokoh masyarakat setempat.
Fokus Gerak Cepat: Deteksi Dini TBC dan Edukasi Stunting
Dalam pemetaan wilayah kerja, Puskesmas Bantur yang mengampu lima desa di bagian selatan Kecamatan Bantur menekankan dua prioritas penanganan:
- Pencegahan dan Pemantauan Stunting: Mendorong peran aktif pemerintah desa untuk mengawal ketat kondisi gizi kelompok sasaran serta memperkuat edukasi masyarakat secara berkesinambungan.
- Penanggulangan TBC: Memperagresif penemuan kasus secara aktif melalui deteksi dini, pemeriksaan bakteriologis, hingga skrining rontgen massal, seperti yang difokuskan di Desa Sumberbening.
Soebagijono juga menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari sekadar mengobati menjadi pencegahan intensif (promotif dan preventif). Menurutnya, konsep sehat harus diartikan secara menyeluruh mencakup aspek fisik, mental, spiritual, hingga sosial.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan tidak berhenti di meja rapat, melainkan langsung berdampak pada penurunan angka stunting dan TBC secara signifikan di wilayah Bantur.

