PojokTV
BREAKING NEWS
Memuat berita terbaru...
Pemkab Sidoarjo
Peristiwa/Detail Berita

28 TAHUN IJTI: BEYOND JOURNALISM, JURNALIS TELEVISI HARUS TETAP SETIA PADA KEBENARAN

Foto Utama Berita

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

Oleh: IstimewaJumat, 21 Agustus 2026 | 03:01 WIB113 kali dibaca

JAKARTA (pojoktv.com)- Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) merayakan ulang tahun ke-28 di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Mengusung tema “Beyond Journalism: Membaca Arah Jurnalisme Televisi di Tengah Ketidakpastian”, peringatan ini menjadi momentum refleksi atas tantangan dan masa depan jurnalisme di tengah pesatnya disrupsi teknologi, perubahan lanskap media, serta dinamika demokrasi.

​Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menegaskan bahwa di tengah pergeseran ekosistem media, prinsip dasar jurnalistik tidak boleh goyah: keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan publik.

​“Perjalanan jurnalistik itu berat, tetapi ada satu hal yang pantang berubah: kita harus setia kepada kebenaran dan sepenuhnya membela publik. Kita berdiri di atas data, kebenaran, serta komitmen melayani kebutuhan informasi masyarakat,” ujar Herik.

​Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi adalah keniscayaan. Karena itu, jurnalis televisi dituntut adaptif agar fungsi jurnalistik tetap berjalan optimal.

​“Yang harus terus berkembang adalah cara kita menyesuaikan diri dengan teknologi, sehingga fungsi-fungsi jurnalistik tetap berjalan presisi,” tambahnya.

Menjaga Independensi dan Menguatkan Kompetensi

​Herik juga mengingatkan bahwa independensi dan kebebasan pers tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, melainkan harus terus dirawat oleh seluruh insan pers dan pemangku kepentingan. Caranya adalah dengan konsisten melahirkan karya jurnalistik yang berkualitas, positif, serta berpegang teguh pada kode etik.

​Di samping itu, pesatnya penetrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadikan peningkatan kompetensi wartawan sebagai hal yang mendesak.

​“Kompetensi jurnalis berbanding lurus dengan kualitas karya yang dihasilkan. Jurnalis tidak hanya dituntut memahami prinsip dasar, tetapi juga harus menguasai teknologi dan membaca perubahan pola konsumsi informasi masyarakat,” tegas Herik.

​Melalui tema “Beyond Journalism”, IJTI menegaskan bahwa masa depan jurnalisme tidak sekadar ditentukan oleh kemampuan memproduksi berita, melainkan juga keberanian berinovasi tanpa menanggalkan nilai-nilai fundamental. Perubahan platform dan teknologi boleh terjadi, namun etika, independensi, serta kebenaran tetap menjadi fondasi utama.

Pers sebagai Pilar Demokrasi

​Lebih lanjut, Herik menegaskan bahwa pers tidak dapat berdiri sendiri dalam menjalankan fungsi sosial dan kontrol kelembagaan. Sinergi dengan berbagai pihak mutlak diperlukan demi mewujudkan ekosistem media yang sehat.

​“Demokrasi dibangun bersama oleh pers, karena pers adalah salah satu pilarnya. Kita membutuhkan kerja sama seluruh pihak terkait,” tuturnya.

​Peringatan HUT ke-28 IJTI ini memperkuat komitmen jurnalis televisi untuk terus bergerak melampaui batas-batas lama (beyond journalism). IJTI bertekad mendorong jurnalisme yang adaptif, tangguh menghadapi tantangan zaman, dan tetap menjadi rujukan tepercaya bagi masyarakat Indonesia.