PojokTV
BREAKING NEWS
Memuat berita terbaru...
Pemkab Sidoarjo
Sosial Budaya/Detail Berita

CEGAH PENGETAHUAN PUSAKA LENYAP, ETHNIC INDONESIA CETUSKAN SERTIFIKASI DIGITAL KERIS

Foto Utama Berita

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

Oleh: Mujianto PrimadiSabtu, 29 Agustus 2026 | 12:35 WIB189 kali dibaca

SIDOARJO (pojoktv.com) - Sebilah keris mungkin dapat bertahan ratusan tahun dan berpindah tangan dari generasi ke generasi. Namun, pengetahuan yang menyertainya seperti nama dhapur, pamor, tangguh, hingga filosofinya berisiko hilang jika tidak dicatat secara sistematis.

​Berangkat dari persoalan tersebut, NRA Rivo Cahyono, pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi, mengembangkan layanan sertifikasi kuratorial keris dan Tosan Aji yang dipadukan dengan sistem dokumentasi digital berbasis QR Code.

​Mengusung konsep "Lestarikan Pusaka, Jaga Martabat Budaya", Ethnic Indonesia menawarkan pendokumentasian yang tidak hanya berfokus pada benda fisik, tetapi juga pada pengetahuan di baliknya. Sertifikat kuratorial yang diterbitkan memuat identifikasi rinci, mulai dari dhapur, pamor, estimasi periodisasi, perabot keris, hingga dokumentasi visual.

​Untuk menjamin objektivitas, setiap sertifikat ditandatangani oleh tiga kurator tersertifikasi BNSP, yaitu:

  • Ilham Triadi (No. Reg. BNSP KRS. 2457 00056 2025)
  • Hario Herlambang (No. Reg. BNSP KRS. 2457 00005 2024)
  • KRA Rivo Cahyono (No. Reg. BNSP KRS. 2457 00278 2025)

​"Sertifikat ini menjadi bagian dari jejak dokumentasi yang tetap terbuka bagi koreksi dan penelitian lebih lanjut," ujar Rivo.

​Melalui QR Code pada sertifikat, pemilik dapat mengakses arsip digital yang mencakup penjelasan rinci mengenai filosofi hingga histori pusaka. Layanan ini terbuka untuk umum, baik bagi kolektor pemula yang ingin memahami koleksinya maupun kolektor senior yang ingin merapikan arsip.

​Gagasan ini lahir dari pengalaman pribadi Rivo sebagai kolektor pemula yang sempat bingung karena menerima penjelasan berbeda-beda mengenai satu keris yang sama. Bahkan, ia sempat tidak lulus pada ujian sertifikasi kurator pertamanya sebelum akhirnya berhasil.

​"Kerisnya mungkin akan berpindah tangan, tetapi pengetahuannya jangan sampai ikut hilang. Saya ingin Ethnic Indonesia menjadi ruang belajar agar masyarakat tidak hanya memiliki keris, tetapi juga memahami warisan budayanya," pungkas Rivo.