Terhalang Ekonomi dan Trauma, Dua Remaja di Sidoarjo Terpaksa Putus Sekolah

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

SIDOARJO, (pojoktv.com) — Harapan untuk kembali mengenakan seragam sekolah masih tersimpan di hati keluarga M. Zainal Abidin dan Dewi Umiya Wati. Di tengah keterbatasan ekonomi, dua dari empat anak pasangan asal Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, tersebut harus putus sekolah.
Kedua anak tersebut adalah Wilda Decahya Fitrah Azzaiti (18) dan Irhas Aulia Muhammad Alfarisi (16). Wilda sebelumnya menimba ilmu di SMA Perlaungan Waru, sementara Irhas merupakan siswa SMP Buana Waru.
Wilda berhenti sekolah sejak 2024 saat masih duduk di kelas X. Sementara Irhas terpaksa putus sekolah pada 2025 ketika duduk di kelas IX—hanya tiga bulan menjelang ujian akhir.
Dewi Umiya Wati (36) mengungkapkan, penyebab kedua anaknya berhenti sekolah dipicu alasan berbeda. Wilda mengaku tidak betah dan ingin pindah ke sekolah lain. Sementara Irhas mengalami trauma setelah mendapat sanksi dari pihak sekolah akibat beberapa kali absen.
Irhas kerap tidak masuk sekolah karena harus merawat ibunya yang mengidap sakit lambung kronis selama 10 bulan. Meski alasan tersebut sudah disampaikan kepada pihak sekolah, Irhas tetap mendapat hukuman membersihkan kamar mandi.
"Guru-guru sudah datang ke sini memberi dukungan. Tapi Irhasnya tetap tidak mau, dia takut disuruh membersihkan kamar mandi lagi," ujar Dewi, Selasa (15/9).
Dewi menambahkan, anaknya masih memiliki keinginan kuat untuk belajar, tetapi menolak kembali ke sekolah lama. Ia berharap Irhas bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di sekolah lain yang dekat dengan rumah dan sesuai kemampuan ekonomi keluarga.
"Sebagai orang tua, saya sangat ingin anak saya sekolah lagi dan bisa mendapatkan ijazah," ungkapnya.
Kendala finansial menjadi tembok besar bagi keluarga ini. Zainal, yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tidak menentu. Sementara Dewi fokus mengurus rumah tangga dan dua anak kembarnya yang masih balita.
"Keluarga kami tergolong masuk kategori desil dua," tuturnya.
Sebelumnya, biaya SPP Irhas mencapai Rp190 ribu per bulan, belum termasuk uang saku dan kegiatan sekolah. Sementara SPP Wilda sekitar Rp250 ribu per bulan.
Beban semakin bertambah karena dua adik kembar mereka kini sudah masuk TK. Untuk biaya masuk awal saja, keluarga harus mengeluarkan uang sekitar Rp2 juta dengan iuran bulanan Rp110 ribu per anak.
Kondisi ini kian memprihatinkan saat proyek bangunan sepi. Menurut Dewi, suaminya bahkan pernah tidak bekerja selama dua bulan penuh.
Ketua RT 09/RW 02 Desa Tropodo, Maskuri Arif, membenarkan kondisi rentan keluarga tersebut. Penghasilan kepala keluarga sangat bergantung pada keberadaan proyek.
"Tukang bangunan itu upahnya sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Tapi itu tidak rutin setiap hari. Kalau proyek selesai, belum tentu langsung ada kerjaan lagi," jelas Maskuri.
Maskuri menilai, putus sekolahnya Irhas merupakan akumulasi dari masalah ekonomi dan trauma psikologis pasca-hukuman sekolah.
"Awalnya memang ekonomi, lalu ada sanksi saat sering absen karena merawat ibunya. Dari situ timbul trauma, dia khawatir dirundung atau dihukum lagi," tambahnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo turun tangan membantu pendidikan kedua anak tersebut, sekaligus mengoptimalkan peran RT/RW dalam mendata warga yang membutuhkan bantuan mendesak.
"Anak dari keluarga kurang mampu butuh pendekatan yang lebih sensitif agar masalah seperti ini tidak membuat mereka melambaikan tangan dari pendidikan," tegas Maskuri.
Menanggapi kasus ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo menyatakan akan segera turun ke lapangan untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

