PojokTV
BREAKING NEWS
Memuat berita terbaru...
Pemkab Sidoarjo
Sosial Budaya/Detail Berita

MITIGASI BANJIR ROB DAN KOLABORASI SEMUA ELEMEN MASYARAKAT SIDOARJO

Foto Utama Berita

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV

Oleh: Redaksi PojokTVSenin, 20 Juli 2026 | 12:27 WIB76 kali dibaca

PojokJTV.Com - Peringatan BMKG Maritim Tanjung Perak dari 11 hingga 17 Juli 2026, sebagai dampak fenomena Super New Moon (fase bulan baru) ini memicu naiknya permukaan air laut (banjir rob), berdampak pada aktivitas permukiman warga di pesisir Surabaya serta tambak garam dan perikanan di Sidoarjo.

Luapan air pasang laut secara langsung merendam infrastruktur desa dan mengganggu akses layanan dasar warga. Lima desa di Kecamatan Sedati Sidoarjo terendam genangan air laut, paling parah dengan luasan terbesar terjadi di Desa Kalanganyar.

Warga terdampak yang lain di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan (Kecamatan Buduran), mengeluhkan sudah 9 tahun berturut-turut berhadapan dengan masalah rob ini. Meski sudah ada tanggul beton pembatas antara sungai dan permukiman, belum maksimal menahan air laut dan tetap menggenangi jalan kampung dan masuk ke rumah saat puncak pasang laut. Dampak genangan ini hingga ke area sekolah, seperti di SD Negeri Sawohan 2. Kondisi ini memaksa para guru butuh waktu lebih lama menuju sekolah dengan menggunakan perahu, sementara para siswa sering kali tiba di kelas dengan seragam basah kuyup.

Kondisi ini berdampak secara ekonomi, khusunya bagi warga petambak. Ribuan hektare tambak bandeng dan udang di wilayah Sedati hingga Desa Rangkah Kidul dan Pucanganom ikut terendam, dan mayoritas tinggal hitungan hari menuju panen. Salah satu titik terdampak di Dusun Gisik Kidul, Desa Tambakcemandi, sekitar 207 tambak warga dilaporkan tenggelam. Ribuan ikan dan udang kualitas ekspor hanyut tak bersisa, dengan total kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.

Infrastruktur seperti tanggul-tanggul tambak dan pintu air juga mengalami kerusakan. Derasnya air laut bahkan membawa lumpur tebal yang merusak gubuk-gubuk penjaga tambak.

Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo menyoroti bahwa kerusakan sektor pertambakan ini erat kaitannya dengan terus menyusutnya vegetasi mangrove di pesisir Sidoarjo, sehingga sabuk hijau alami penahan abrasi yang menipis tidak mampu melindungi luapan air laut di area tambak serta permukiman warga.

Mitigasi Pemkab Sidoarjo tengah dilakukan dengan mengalokasikan anggaran Rp 58 miliar untuk penataan infrastruktur penangkal banjir terintegrasi. Peninggian jalan dan drainase di beberpa titik rawan rob terus dipercepat, Normalisasi Sungai yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) Sidoarjo, terus mengoptimalkan alat berat untuk mengeruk endapan lumpur, membersihkan sampah dan memperlebar sungai.

Untuk menekan kerugian di sektor perikanan, Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo memasang beronjong (kawat pengikat batu tanggul) di titik-titik kritis untuk memecah arus dan mengurangi air rob masuk ke tambak warga.

Perlu peran seluruh elemen masyarakat dalam penanganan ini. Kalangan akademisi dan pakar lingkungan menilai pentingnya pendekatan ekologis dan sosial, sebagai penguat upaya yang sedang dilakukan pemkab.

Rehabilitasi Sabuk Hijau (Mangrove) menjadi prioritas utama dan mutlak dilakukan dalam penanganan rob yang berkelanjutan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diharapkan secara masif membentuk desa tangguh bencana di wilayah pesisir, guna membekali warga dengan kemampuan mandiri saat dan sebelum pasang laut terjadi. Di sisi lain, kesadaran akan perubahan perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai harus terus ditingkatkan.

Perlu ada pelibatan pihak swasta dan perguruan tinggi untuk mengimplementasikan teknologi pemantauan pasang surut secara real-time atau sistem pompa otomatis yang lebih cerdas. Rencana pembangunan tanggul laut permanen (seawall) terus dikaji mendalam, yang diterjemahkan dalam penyusunan Detail Engineering Design (DED), sebagai solusi pencegahan air rob jangka panjang.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi dan profesional diharapkan mampu mengurangi dampak air pasang, sehingga kegiatan ekonomi dan pendidikan di masyarakat tetap berjalan.