KAMPUNG BEBEK SIDOARJO TETAP BERTAHAN DISAAT EKONOMI MELEMAH

Foto: Dokumentasi Redaksi PojokTV
Kala Ekonomi Melambat, Ketangguhan Petelur Kampung Bebek Kebonsari Tak Kunjung Surut
POJOKTV.COM, SIDOARJO — Perekonomian yang melambat tak pernah mengetuk pintu sebelum memberikan dampak. Di Jalan Bima, RT 05 RW 01, Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, dampaknya terasa nyata pada piring-piring rezeki warga lokal. Namun bagi Sulaiman, lesunya daya beli masyarakat bukanlah alasan untuk melempar handuk.
Pria yang sehari-hari menggantungkan hidup dari denyut Kampung Bebek Sidoarjo ini memilih tetap berdiri tegap. Di tengah himpitan ekonomi yang serba sulit dan pasar yang tak sebergairah dulu, ia bertaruh pada satu hal.
"Kondisi sekarang memang serba berat. Daya beli turun, tapi kita yang di bawah ini tidak boleh ikut menyerah. Yang penting usaha terus jalan dan kualitas tetap dipegang," tutur Sulaiman saat ditemui di kediamannya.
Sulaiman bukan pemain baru yang gagap membaca situasi. Ia paham betul bagaimana roda ekonomi makro berimbas langsung pada kantong usahanya (UD Adun Jaya). Pria ini merindukan masa-masa emas sebelum pandemi Covid-19 menghantam—era di mana pesanan dari kawasan wisata Nongko Jajar sanggup menembus angka 800 butir per minggu setiap kali musim liburan tiba.
Kini, lanskap itu telah berubah drastis. Pasar wisata melesu, dan pembeli dari luar kota tak selincah dulu. Dari populasi 400 ekor bebek yang dipeliharanya—menghasilkan rata-rata 260 butir per hari—Sulaiman harus memutar otak lebih keras agar setiap butirnya tetap terserap pasar lokal.
"Dulu permintaan dari luar sangat deras. Setelah pandemi sampai sekarang, pertumbuhan usaha rasanya lambat sekali karena penjualan belum bisa mengejar angka seperti dulu. Sekarang lebih banyak mengandalkan pembeli langganan yang datang ke rumah," ungkapnya dengan nada reflektif.
Untuk meliuk di antara himpitan ekonomi, Sulaiman tak tinggal diam. Ia menyesuaikan diri dengan kemauan dan kemampuan kantong konsumen. Dari rumah sederhananya, pria ini menghadirkan fleksibilitas produk demi menjaga senyum para pelanggannya.
Ia menawarkan variasi harga yang tetap terjangkau tanpa mengorbankan mutu:
- Varian Original: Ditawarkan seharga Rp3.700 per butir.
- Varian Goreng & Oven: Dibanderol Rp3.800 per butir.
- Varian Bakar: Pilihan favorit beraroma khas seharga Rp4.000 per butir.
Bagi Sulaiman, memberikan banyak pilihan bukan sekadar trik dagang, melainkan bentuk empati kepada masyarakat yang juga sedang berjuang mengelola keuangan di tengah situasi ekonomi yang dingin.
Di balik raut wajahnya yang tenang, ada keteguhan seorang kepala keluarga sekaligus pilar ekonomi lokal di Desa Kebonsari. Sulaiman menyadari, perjalanan memulihkan kondisi finansial masih panjang dan terjal. Namun, harapan akan membaiknya iklim ekonomi nasional terus ia rawat setiap hari.
"Harapan saya cuma satu, semoga ekonomi segera pulih total. Kalau daya beli masyarakat naik lagi, otomatis usaha-usaha kecil seperti kami ini ikut bernapas lega. Selama itu belum terjadi, saya akan terus bertahan," pungkas Sulaiman penuh optimisme.


